Selasa, 23 Januari 2018

Waktu dan Tempat Praktek Saya

Assalamualaikum bunda-bunda yang di cintai Allah. Bagi yang ingin berkonsultasi dengan saya, sekarang saya praktek di 2 tempat. Jika jauh ke cisauk bisa datang ke Lavani mom and baby care, tapi bila lebih dekat ke cisauk saya juga praktek di Bidan Sri Mulyati. Info lebih lengkap baca di bawah ini yaaa... 

1. Lavani mom and baby care
  • Jl SKKI No 38 (samping RS Islam As Shobirin) Priyang Pd. Jagung, Serpong Utara, TangSel
  • Setiap minggu pk 14.00 sd selesai

2. Di Bidan Sri Mulyati
  • Perumahan Griya Serpong Asri, Jln Anggrek Blok L/6 Suradita, Cisauk - Tangerang
  • Setiap Rabu jam 14.00- 17.00
Jangan lupa buat appointment dulu yaaa...
Appointment mba ayu: (wa only)
*081806166621*

Senin, 22 Januari 2018

Labor For Dummies

Pekerjaan sy sebelumnya sebagai Analis Performa Telekomunikasi. Kita selaku pengguna telekomunikasi tentunya pernah beberapa kali mengalami drop-call, nelpon susah nyambung, Internet lemot dan lain sebagainya. Peran sy adalah mencari tahu penyebab dari berbagai kendala tersebut, setiap kendala yg berbeda biasanya berbeda pula penyebabnya. Dalam proses menganalisa dan mencari tahu penyebab kendala tersebut tentunya sy mengacu pada parameter parameter yg muncul sebelum, selama dan sesudah kendala terjadi. Nilai nilai dari berbagai macam parameter itulah yg saya olah dalam proses analisa.

Lain ladang lain ilalang kata orang, tapi peribahasa ini sepertinya tidak sepenuhnya betul. Dalam proses persalinan seringnya kita berpangku tangan pada tenaga kesehatan. Ketika istri merasakan kontraksi kita langsung membawanya utk diperiksa. Bagaimana bu dokter/bu bidan apakah sudah waktunya lahir? Kira kira kapan? Ow masih lama pak silahkan pulang dulu aja, nanti klo ada apa2 kesini lagi aja. Dan saat itu pikiran kita berkecamuk bagaimana nanti klo ada apa apa? Bisa ga nunggu nya nginap di rumah sakit aja, biar klo ada apa apa bisa langsung ditangani. Namun biasanya kita pasrah pulang aja sambil membawa perasaan was was. Besoknya kita suami jadi ga genah apakah harus berangkat kerja, nanti klo di tempat kerja istri sy kenapa napa gmn? Itulah biasanya pertanyaan yg sering berkecamuk, setidaknya yg pernah sy alami di persalinan anak pertama.

Klo kita perhatikan, kok kayaknya dunia persalinan itu dunia gaib. Kita bingung harus berbuat apa, ujung ujungnya kita hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Namun setelah sy alami tiga persalinan dan memperhatikan beberapa persalinan orang lain, sy bisa ambil kesimpulan bahwa sebenarnya proses persalinan juga ada parameter parameter yg bisa kita jadikan acuan utk mengambil keputusan atau tindakan. Persalinan science juga kan sama halnya dengan Telekomunikasi, akar nya IPA juga alias ilmu pasti.

Saat 36/37 minggu pada saat istri diperiksa tanya aja ke dokter/bidan apakah Kepala bayi sudah masuk panggul belum? ini parameter pertama. Jika sudah masuk panggul, posisi bayi biasanya sudah tetap. Jika belum berarti kita musti waspada karena posisi bayi bisa kapan saja berubah. Yg dikhawatirkan adalah posisi sungsang atau melintang pada saat proses persalinan. Pada W36-37 kepala masih belum panggul menandakan panggul istri belum begitu merenggang. Kenapa belum merenggang? bisa jadi karena selama 8 bulan kehamilan istri kita males gerak. Kemana mana naik motor, ga mau jalan jauh dikit, ga pernah berenang, yoga, senam hamil dan olahraga lainnya. Jika hal ini terjadi masih ada waktu 1-2 minggu utk usaha peregangan panggul dan memutar posisi bayi. Pada hakikatnya memutar bumi saja Allah Maha Kuasa apalagi hanya sekedar memutar kepala bayi, namun Islam senantiasa mensyariatkan ikhtiar setelah berdoa.

Kemudian pada saat datang kontraksi biasanya istri kita diperiksa dalam ada beberapa parameter yg bisa kita tanyakan. Kepala bayi bagaimana apakah masih tinggi atau sudah dekat atau bahkan sudah hampir kepegang? Klo masih tinggi berarti kita musti ekstra ikhtiar, jalan kaki, naik turun tangga, ngepel jongkok dan lain sebagainya. Parameter ini biasanya dipadukan dengan parameter mulut rahim. Apakah mulut rahimnya tebal atau tipis, kaku atau lunak. Klo kepala bayi masih tinggi dan mulut rahim tebel plus kaku biasanya kita disuruh pulang dulu. Nah kita jangan ragu untuk pulang, di rumah ikhtiar nya dilanjutkan. Tadi kepala tinggi ikhtiar nya olahraga, dan mulut rahim yg tebal kaku ikhtiar nya hubungan suami istri, karena sperma kita mengandung hormon yg bisa melunakkan mulut rahim.

Kita biasanya cuman nanya udah pembukaan berapa dok? Parameter ini sebenarnya aga bias dan aga susah dijadikan acuan, karena pembukaan yg pasti itu hanyalah pembukaan satu dan pembukaan lengkap atau sepuluh. Antara pembukaan 3 sampai 8 tiap tenaga kesehatan biasanya berbeda. Ya namanya ngukur pakai dua ujung jari, coba bisa ngukurnya pake penggaris hehe. Kadang di bidan ini pembukaan 3 tapi di bidan yg lain pembukaan 4. Konon katanya matanya bidan ada di tangan, iya bidan yg ga bisa mengukur pembukaan musti belajar lagi, ini katanya lho ya.

Parameter yg lebih pasti adalah frekuensi dan durasi kontraksi. Prinsipnya makin sering dan makin lama kontraksi itu makin mendekati masanya lahir. Dan sedikit bocoran dari bidan yg sy kenal bahwa di bawah pembukaan 4 tidak bisa diprediksi kapan lahirnya, bisa lusa bahkan bisa minggu depannya lagi. Tapi jika sudah di atas pembukaan 4 itu bisa diprediksi, bagaimana keahlian si tenaga kesehatannya.

Nah utk soal prediksi prediksi ini kayaknya sy ga bisa mempelajari lebih lanjut, harus ambil spesialisasi kandungan dengan jam terbang yg tinggi pula. Tapi lumayanlah sy kira beberapa parameter di atas bisa dijadikan acuan utk kita orang awam dalam mengusahakan persalinan alami bagi istri kita. Klo kita paham parameter parameter minimal di atas biasanya kita ga akan mudah panik. Klo kita ga panik dan tenang, kita bisa menjalankan Birth plan dengan baik dan menikmati proses persalinannya.

Wallahualam bishawab

Si single tasking dan Empaty kaum hawa.

Jadi.. Kalo ibu main kerumah ibu2 lain yg rumahnya berantakan. Plis dont judge her!
Kayaknya familiar banget denger slogan emak emak multi tasking.
Padahal engga semuanya lho emak2 itu multi tasking.
Saya.. Iya saya
Saya ini si single tasking. Saya ga bisa mengerjakan beberapa hal berbarengan.
Krn sy single tasking maka saya butuh seseorang utk membantu saya. Iya ART.
Jadi ceritanya si mbak itu lg mudik. Dan baru hari minggu ini balik lagi kesini.
Saya bertahan tanpa mbak yaitu menurunkan standart. Biasanya rumah di pel sehari 2x sekarang saya cuma 1x, kadang suka masak skrg beli mateng, pake baju yg Kira2 bahannya ga ngaruh krn ga di setrika. Beres2 juga suka2 waktunya.
Tapi sejatinya saya menyukai keindahan, kerapihan, dan kebersihan. Oleh sebab itu hati tetep gundah gulana liat rumah berantakan.
Oke.. Pagi ini saya ingetin suami
"bi ingetkan istrimu ini single tasking?, tolong bantuin umi handle Anak2 karena umi harus fokus membersihkan dan merapihkan rumah"
Pak suami dg sigap membawa keluar Anak2 dan saya rapih2.
Jadi emak2 single tasking itu bukan males. Dia cuma butuh konsentrasi dan fokus mengerjakan hal2 tanpa harus di ganggu. Bedanya Emak2 single tasking tetep ga akan nyaman lihat rumah kotor dan berantakan dia akan cari waktu ketika sepi utk mengerjakan hal2. Misal nunggu Anak2 tidur.
Sedangkan emak2 yg kurang rajin dan rendah selera ttg kerapihan dan kebersihan, itu ya ga akan di beresin seluang apapun waktu mereka.
Bukan ga bisa jd multi tasking. Tapi memang saya terlahir sbg single tasking. Dan saya tetap angkat topi pada emak2 multi tasking.
Laluuuu mak, skrg udah tau kan ada yg model begitu. Tinggal mengasah empaty sesama kaum hawa. Liat tetangga anak 6 tanpa art. Itu wajar rumahnya susah rapih. Mungkin rapih hanya bertahan 5 mnt aja udah keren. Mainlah kerumah ya, anter lauk mateng. Atau ketika anaknya main kerumah mu. Jamulah anak tersebut. Sebagaimana kamu ingin anakmu di perlakukan manis oleh tetangga sebelah.
Empaty? Itu ga bisa di beli. Tp mgkn sesekali bisa di asah.
Minimal ga nyinyirin urusan domestik rumah sebelah.


Dzakira Training Center, mengadakan *Smart Birthing Class angakatan 23

Smart Birthing Class akan sangat bermanfaat untuk para ayah bunda. secara dasar dan teknis serta dr hukum syariah apa dan bagaimana kehamilan dan persalinan akan di bahas.
Apa aja sih yg akan kita pelajari..
👉🏻sesi 1
💡filosofi kehamilan dan persalinan
💡cara mensyukuri rahim
💡keistimewaan kehamilan dalam islam
💡cara menjalani kehamilan yang baik, benar, sehat dan bahagia
💡3 aspek kebutuhan dasar kehamilan
💡apa tugas suami saat mendampingi istri yg hamil
👉🏻sesi 2
💡macam2 metode persalinan
💡bersiap menjalani persalinan
💡kunci cara bernafas saat persalinan
💡7 tahap persalinan
💡agar suami tak mati gaya dan mudah panik saat istrinya melahirkan
💡perlengkapan yg harus di siapkan untuk persalinan di rs, di klinik atau di bidan.
👉🏻sesi 3
💡masa adaptasi pasca persalinan. adaptasi ibu, adaptasi ayah, adaptasi bayi.
💡pentingnya IMD
💡menyusui yang benar sesuai perintah Allah
💡apa itu syndrom baby blues dan PPD
💡mengantisipasi masalah masa nifas.
📜di akhir praktek membuat Birth Plan yang matang.
Sabtu Minggu 24-25 maret
Pukul 08.00 - 11.00
🏡Lokasi :
*Hotel Amaris Serpong*
💸Biaya : *1.000.001*
Early bird sampai dengan 31 Januari 2018 *800.001*
aturan acara
mengikuti tepat waktu dan sampai selesai
harus di ikuti suami istri
Membuka kelas privat dengan waktu yg fleksible.
Registrasi
Bidan Ridha
08125940676
Pembayaran transfer ke
Bank Mandiri an leni rahayu
9000026096553

Saya, dan Make Up

Mungkin ada bbrp temen sekolah atau kuliah saya dulu ingat betapa saya ini sangat enggan menempelkan sesuatu di kulit saya.
Saya ga suka pakai kosmetik bentuk apapun. Dengan bbrp alasan
1, saya ga yakin bisa cantik dg kosmetik
2, uang buat beli kosmetik juga ga ada
3, kulit sensitif jerawatan jadi makin males kalo harus bersihin dengan detail.
4, siapa yg peduli saya cantik apa engga, toh saya ga pacaran.
Leni yg duluuuuuu cuek bebek sama penampilan. Yg di kejarnya cuma syar'i aja. Pakai rok/gamis, jilbab menutup dada dan kaos kaki. Habis perkara. Mgkn kaos kaki warna hitam jadi pilihan karena duit buat beli kaos kaki jg ga punya. Warna hitam atau alas ya yg hitam ga ketahuan kalo itu kaos kaki ga ganti 3 hari.
Taraaaaa
Usia 22 tahun dapet jodoh yg kata orang ganteng, menurut saya sih biasa aja padahal mah😂 sampe2, pas jd penganten itu di komentarin temen kalo si penganten Laki2 lebih mudah. Whattt?
Urusan permake up an dan traumanya pun di mulai,
Penata rias saat saya jd penganten dateng terlambat. Dan ini membuat saya sangaaaat kesal di hari pernikahan. Bayangin akad jam 8 penata rias dateng jam 7, akhirnya riasan saya amburadul ditambah hati yg amburadul jg.
Which is saat itu saya merasa bahkan lebih jelek dr biasanya.
Dan sampe sekarang melihat foto pernikahan adalah hal yg saya hindari.
Trauma kedua
Hamil anak pertama, kulit saya menghitam, jerawatan, daaan utk leni yg dulu imut- jadi amit-amit, saya pakai apapun di wajah saya saat itu membuat wajah saya makin sensitif. Gatal dan jerawatan. Okee sabar deh namanya jg lg hamil.
Lahiran mushab udah dendam mau rutin skin care tp si dana tak mendukung. Kebutuhan meningkat krn banyak keperluan si sulung yg harus di beli, cicilan rumah, dan adik2 yg butuh biaya pendidikan. Kasar ya asal bisa makan sehari 3x udah sangat beruntung. Jadi Boro2 mikirin skin care, beli nasi uduk aja rasanya suatu pemborosan.
Di tengah kegalauan yg membuat saya ga PD, ga cantik, cape ngurus anak, kesel ngatur duit, tiba2 celetukan orang terdekat yg sampe saat ini masih inget bgt tanggal, bulan, tahun, jam, gestur dan intonasi kalimat yg sangat menyayat "orang B... Ng mah kulit di urus, bersih ga jorok"
Rasanya kaya petir di siang bolong. Ya harusnya sih saya ga perlu marah atau tersinggung. Toh saya bukan orang B..Ng. Tp bbrp mulut menyamakan kecantikan saya dg kecantikan seseorang yg bikin saya merasa ini ga fair buat saya. Saya tidak menciptakan wajah saya sendiri. Begitupun dia.
Malam itu juga saya bercermin, seinget saya saya ini cantik ko, saya juga punya banyak kelebihan, saya juga punya inner beauty.
Sejak itu saya selalu memperhatikan kecantikan. Bukan kecantikan saya tp kecantikan setiap wanita. Dan subhanallah saya bs melihat setiap perempuan itu cantik.
Setiap pergi yg saya lirik bukan cowo2 tp cewe dengan berbagai gaya, bahkan nenek2.
Pola pikir pun di olah bertahun 2, tentang apa itu cantik, apa itu kecantikan, termasuk istilah pangling.
Sampe Allah pertemukan saya dg seorang MUA saya minta di "dandani" untuk memastikan bahwa saya bisa cantik engga sih. Dan saya mengakui lagi bahwa saya ini cantik. Istilahnya Christina aguillera itu "I'm beautifull no matter What they say"
Pergulatan dalam dunia kecantikan pun di mulai. Apakah ada yg wanita di luar sana yg merasa cantik tp tidak ada kesempatan utk cantik. Atau ada wanita di luar sana yg merasa tidak terlahir cantik.
Satu persatu saya menawari mereka utk saya make up. Saya foto dan bbrp saya kirim ke suami mereka masing2. Responnya dari yg gengsi memberi pujian dan memilih utk senyum saja. Sampe ada yg komentar "wah bisa cantik juga istri saya". Rasanya??? Seneng dan ga terbayar.
Saya bukan MUA profesional. Saya cuma pembelajar. Saya seorang bidan yg mencintai dunia wanita luar dan dalam

KHITAN

Oke saya mau cerita banyak nih tentang pengalaman khitan anak anak bujang saya. Iya soalnya ada 2 anak bujang. Dan dua2nya di khitan berbarengan.
Kata orang tua, kapan anak di khitan? Saat udah minta
Kata agama usia 7 hari
Kata medis jangan terlalu kecil atau terlalu besar. Selagi tidak ada indikasi. Segera khitan ketika ada masalah. Misal ISK.
Jadi utk Anak2 saya, saya ambil kata orang tua. Ketika udah minta.
Jadi abang 6 tahun yg minta di khitan krn dpt cerita dr bbrp pihak bahwa khitan itu sesudahnya punya uang banyak, bisa beli mainan pake uang itu. awalnya saya ragu. Tp ya sudahlah ikutin aja. Tadinya mau sabtu, tp sabtu saya praktek, minggu dan senin saya ada SBC, selasa kosong jadwal lgsg Pagi2 saya tanya lagi. "bang jadi ga sunat nya?" dia bilang jadi. Dan semangat sekali mandi dan sarapan utk kita cari klinik khitan.
Jauh sebelumnya saya udah baca2 metode khitan yg akan saya gunakan.
1. Manual
2. Laser
3. Smart klem
1. Manual itu saya belajar krn pernah jadi asisten dokter. Dan bantu2 kalo si dokter khitan. Jadi metode ini. Standar aja, di anestesi, gunting yg mau di buang dan jahit. Memakan waktu sekitar 45-1 jam. Setelahnya di jahit.
Saya perhatikan penyembuhan cukup lama sekitar 2 mgu utk pakai celana seperti biasa. https://youtu.be/JPUZdlXd3AU
2. Laser, itu pemotongan dg alat laser. Memakan waktu 30-40 mnt dg penjahitan. Memakan waktu penyembuhan 2 mgu jg utk pakai celana seperti biasa. Videonya silahkan lihat di https://youtu.be/86cNLDz87gM
3. Smart klem. Setelah anastesi, dan di beri tanda, klem di siapkan utk dimenjepit. Klem sbg pengganti penjahitan. Jadi tidak di jahit lagi. Proses pengerjaan 10-15 mnt aja. Penyembuhan katanya ya memakan waktu 2 mgu. Tp kenyataannya anak saya 1 mgu udah pakai celana. Prosesnya silahkan lihat disini
https://youtu.be/6FJVmtrrF8A
Pilihan jatuh ke metode smart klem. Karena pertimbangan berikut.
1. Prosesnya lebih cepat. Jadi mengurangi resiko trauma pada anak. Kebetulan anak sya yg pertama ini traumatis bgt.
2. Klem sbg penjahitan ini saya meyakini hasil akhir pasti lebih rapih krn tidak ada kerutan sisa jahitan.
3. Dengan klem resiko perdarahan lebih kecil.
Itu aja alasan ibu2 model saya yg ga mau repot.
Nah pengalaman saya juga menyarankan ibu2 utk mempersiapkan
1. Biaya.. Umumnya utk khitan manual itu biaya 400-700 rb. Laser 600rb-1jt. Klem 1jt-2,5jt.
Utk saya kmrn 1,7jt/ anak di kali 2 anak jadi 3,4 jt.
2. Siapkan celana batok atau celana sunat. Kalo beli di klinik suka mahal. Saya beli di klinik 50rb. Sedangkan beli online 20rb.
3. Siapkan obat penawar anak berupa hiburan. Jadi kmrn saya janjian beliin mainan. Mainan apa aja yg dia mau. Pulang khitan kita ke toko mainan. Ketika dirumah dia sibuk dg mainan barunya.
4. Jika ingin mengadakan acara sprti syukuran/ mengkong/hajat saya sarankan nunggu si anak sembuh. Atau minimal menjelang sembuh. Karena akan menguras energi orang tua lebih banyak.
5. Utk usia silahkan orang tua punya kebijakan masing2. Kapan waktu yg tepat. Tp pengalaman saya antara mushab 6 th dan hudzaifah 3 th. Lebih cepat penyembuhan hudzaifah. Tingkat kesakitan saya lihat hudzaifah lebih enjoy dr si abang.
6. Kasih nilai2 khitan utk anak yg lebih besar. Bahwa memang seharusnya Laki2 di khitan. Jika dia beragama muslim.. Saya juga bilang ke anak bahwa khitan jg prestasi. Dia patut bangga krn sdh di khitan. Karena ga setiap anak berani lho.
Terus apakabar pengalaman 2 bujang itu?
Ternyata baik saya orang tuanya dan 2 bujang saya menikmati prosesnya. Jadi ga terlalu drama drama bgt. Apa itu minta di kipasin2, nangis2 tiap malem. Ga ada. Bahkan besoknya mereka udah main di lapangan. Termasuk hudzaifah udah main sepeda pada H+1. H+5 copot klem. H+7 sdh pakai celana seperti biasa. H+8 dia udah pada berenang.
Saran : berdasarkan pengalaman saya hudzaifah lebih mudah di urus dr abang ya. Jadi usia 2-3 th adalah usia yg pas menurut saya. Kenapa? Dia tidak terlalu ngerti istilah "ngeri" dia bahkan bangga lihat celana ya ada batoknya. Katanya "ana obot" (celana robot) dia juga sebut klem di peni* nya itu tembakan robot 😂.
Apa ga sakit?
Ada kalanya mereka sakit tp saya besarkan hati mereka kalo memang begitu prosesnya dan harus sabar.
Bengkak?
Semua metode ada proses inflamasi/ bengkak. Ini sebentar aja. Utk usia tertentu bs di berikan obat utk bengkaknya. Tp Mereka bisa berendam air hangat utk sbg pereda nyeri dari bengkaknya.
Saya belajar dan melihat, mereka ga ada masalah. Mereka ga takut. Mereka bahkan sangat bangga. Mgkn kalo saya ngikutin perasaan saya sbg ibu mereka belum tentu sdh di khitan. Lantaran ga tega. Alhamdulillah setelah mengkhitan mereka rasanya plooong bgt.
Next kalo punya anak Laki2 lg saya akan mengkhitan usia 3 th lg.
Oia pengalaman orang bisa beda2 termasuk biaya khitan jg. Jadi sesama emak lebih bisa menyikapi perbedaan itu yah. Semoga bisa membantu. Shareable 😍

Jumat, 23 Oktober 2015

The part of my life 1

Lahir dalam kultur budaya jawa sunda, lulusan sekolah dasar dan menikah usia 16 th. Dan mengandung saya di usia 17 th. Mama melahirkan saya di bantu dengan seorang dukun beranak atau paraji.

Tak banyak cerita bagaimana proses persalinan saat saya di lahirkan, tapi mama begitu sulit beradaptasi setelah kelahiran saya.

Yaa dalam adat, seorang yang habis melahirkan tak boleh minum, makan hanya tahu dan tempe, perut di ikat bengkung tak boleh turun dari tempat tidur, kaki pun d ikat karena tak boleh d tekuk, bahkan daerah kewanitaan nya di borehi rempah2 yg d sudah di tumbuk. Ahh tak terbayang betapa menderitanya mama di usia 18 tahun sdh harus melahirkan seorang bayi. Yaitu saya.

Tak habis di situ saja, bapak saya merantau ke jakarta mama di tinggal dg saya d desa beserta kakek dan nenek. Saya tumbuh tidak sehat.. Nyaris lebih banyak sakit dari pada sehatnya.. Sering kejang ketika demam, berobat ke dukun lebih d pilih mama karena ketidaktahuannya. Sampai mama pernah berucap "ya Allah jika memang anak saya terus menderita, saya pasrah jika Kau ingin mengambilnya, atau pindahkan rasa sakitnya kepada saya" begitu doa mama yg mama ceritakan. Itulah gambaran awamnya mama. Tapi saya selalu melihatnya adalah sosok pejuang sejati. Sebelum saya kenal kartini bahkan sebelum saya kenal siti khodijah, pejuang sejati adalah mama.

Mama berjuang dalam diam, mama berjuang melalui doa-doanya, mama tak pernah membalas orang dengan kemarahan, mama tak pernah balas dendam. Mama menerima smua cemoohan, menerima segala hinaan, menerima semua dan membalas dengan doa.

Ikhlas itulah contoh yang mama contohkan. Lantas apa juga saya menjadi probadi yang ikhlas seperti mama? Ahh ternyata tak semudah itu. Hinaan, cemoohan, kekasaran orang2 sekitar yang di balas dengan maaf doa , malah menjadi pacutan negatif saya untuk membalas dendam.